Wednesday, 9 March 2011

akhirnya 'sedikit' terjawab


Sampai hari ini salah seorang teman saya selalu bilang kalau dirinya gendut dan ia rela membeli berbagai macam produk pelangsingan tubuh bahkan perawatan jutaan rupiah agar tubuhnya langsing kaya model. Tubuh ideal menurutnya adalah 45-49 kg. What de zig, saya baru tersadar karena berat tubuh saya di bawah itu (anehnya saya malah kepikiran, hmmm).

Seorang teman saya, yang berkulit putih seperti aktris Hongkong atau Korea, masih rela mengikuti pemutihan kulit seminggu dua kali. Tiap hari ia harus direpotkan dengan berbagai macam krim dari dokter untuk upaya pemutihan kulitnya itu. Setiap kami sedang mengikuti kuliah, ia akan selalu menyempatkan diri ke toilet, bukan untuk buang hajat, melainkan untuk memeriksa kadar minyak di wajahnya dan kemudian memulaskan kembali bedak di area itu.

kedua teman perempuan saya itu bukan hanya dua di antara sekian banyak perempuan yang seolah menekankan masalah kecantikan. Mungkin kebanyakan perempuan sangat memikirkan kecantikan. Sesama perempuan bahkan sering menganggap perempuan lain sebagai saingan untuk mendapatkan pengakuan atas kecantikannya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Perempuan sejak kecil memang sudah dibentuk untuk memperhatikan penampilan fisiknya. Perempuan mendapatkan penguatan (reinforcement) untuk tampilannya yang menarik di mata orang lain. Kalimat-kalimat seperti, “Wah pitamu bagus ya,” atau  “Kamu cantik sekali dengan gaun itu,” dan juga “Duh siapa yang kepang-in tuh rambutmu jadi manis begitu?” merupakan kalimat yang cukup sering terlontar dari mulut orangtua, saudara, tetangga, dsb kepada anak-anak perempuan.

Selain reinforcement dari lingkungan, media juga memiliki kekuatan luar biasa untuk mengkonstruksi kecantikan perempuan. Majalah-majalah menjejalkan perempuan dengan tips-tips kecantikan. Iklan produk kecantikan bertaburan di mana-mana, dengan cerita iklan tipikal : laki-laki akan menatap dengan penuh kekaguman pada perempuan yang kulitnya sudah berubah menjadi putih, yang rambutnya sudah menjadi indah, atau keriputnya sudah berganti dengan kulit kencang setelah penggunaan produk-produk ajaib itu.

Iklan-iklan semacam itu jelas memberikan vicarious reinforcement, yaknireinforcement yang sebenarnya diterima orang lain (model iklan) tetapi kita sebagai si pengamat ikut merasakannya. Hal ini memacu perempuan untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami sendiri reinforcement yang diterima si model dalam iklan tersebut. Dengan meminjam istilah Albert Bandura dalam teori belajar sosial (social learning theory), perempuan yang menyaksikan iklan itu meniru (modeling) perilaku si model iklan.

Iklan-iklan tersebut juga menampilkan model-model yang tipikal : muda, berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh seksi. Padahal jika kita mengacu pada prinsip distribusi normal dalam statistik, maka jumlah individu yang memiliki nilai rata-rata (dalam berbagai aspek yang diukur) adalah sebesar 68.26%. Individu yang memiliki nilai ekstrim tinggi atau rendah hanya ada sekitar 4.56%. Sisanya adalah mereka yang berada di atas rata-rata namun tidak ekstrim, atau kurang lebih sebesar 27.18%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam realitas, sebesar 68.26% perempuan di dunia adalah perempuan yang tergolong rata-rata kecantikannya. Atau seperti yang dikatakan Rhoda Unger dan Mary Crawford, keduanya psikolog feminis, menampilkan model iklan dengan tipikal seperti di atas sesungguhnya tidak representatif.

Walhasil dengan bentukan-bentukan seperti itu, perempuan selalu berfokus pada tubuhnya. Perempuan sering merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Berbagai kamuflase dilakukan perempuan untuk menutupi bagian tubuhnya. Studi perilaku dengan observasi menunjukkan perempuan sering meletakkan tas di atas paha ketika duduk sehingga perutnya tertutup. Atau perempuan akan membawa buku dengan tangannya yang memegang buku diposisikan di bagian tubuh yang atas, karena mungkin tanpa sadar perempuan berusaha menutupi bagian dadanya.

Simone de Beauvoir, seorang feminis Perancis, sempat dikritik karena memiliki pandangan yang terkesan suram atas tubuh perempuan, dalam bukunya yang terkenal The Second Sex. Namun menurut saya, Beauvoir hanya ingin memaparkan realitas betapa sejak kecil sampai lansia, perempuan senantiasa berurusan dengan tubuhnya.
Simak saja bagaimana setelah melewati masa kanak-kanak yang penuh denganreinforcement-reinforcement untuk kecantikannya, perempuan akan memandang perubahan tubuhnya pada masa pubertas dengan lebih penuh keheranan dibanding laki-laki. Jika penis laki-laki hanya menonjol dalam kondisi tertentu, tidak demikian dengan payudara perempuan. Berbeda dengan mimpi basah yang sehabis bangun tidur pun segera berlalu, menstruasi memakan waktu kurang lebih tujuh hari. Jika cairan yang keluar saat mimpi basah tidak mempengaruhi komposisi substansi tubuhnya, saat menstruasi perempuan akan kehilangan sebagian darahnya yang tentu dapat mempengaruhi kondisi tubuh.

Ketika hamil, kepedulian perempuan pada tubuh akan semakin besar.  Jamu, krim, pil, dan bahkan sekarang muncul dalam bentuk susu yang dipelopori Tropicana Slim dibuat untuk mengembalikan bentuk tubuh perempuan. Menyusui bayi menjadi pilihan yang kadang dilematis pada perempuan-perempuan yang mengkhawatirkan payudaranya tidak lagi indah.

Semakin bertambah usia, ketika kulit berkerut dan perut semakin berlemak, maka semakin banyak pernak-pernik yang akan digunakan perempuan untuk menutupi kekurangan tubuhnya itu. Perempuan berharap aksesoris itu dapat mengalihkan pandangan orang lain dari  wajah dan tubuhnya. Pada saat yang sama, akan semakin tebal kosmetika dibubuhkan di wajahnya. Sampai-sampai kita mengenal stereotipe negatif ,” Ih dandanannya menor/medok (tebal) kayak tante-tante.” Dan ketika usia mulai menua, kata awet muda menjadi begitu indah di telinga perempuan.

Tidak heran jika perempuan menjadi target pasar yang paling berpotensi. Klinik kecantikan dan pelangsingan tubuh didirikan, dengan nama yang khas perempuan : Bella, Susan, dan Marie France Bodyline (bukan Susanto atau Pierre France Bodyline misalnya; Marie adalah nama untuk anak perempuan yang cukup populer di Perancis dan Pierre untuk anak laki-laki, Bella juga berarti cantik diambil dari belle dalam bahasa Perancis).

Berbagai kosmetika diproduksi  dan tidak pernah tidak laku. Target pasarnya dimulai sejak remaja, sebuah tahap perkembangan transisi saat harga diri (self-esteem) cenderung berfluktuatif sehingga mudah dipengaruhi. Bahkan ada pula produk kecantikan yang ditujukan untuk anak-anak, misalnya sebuah perusahaan multilevel yang membuat lipstik khusus anak.  Atau mungkin kita masih ingat dengan sebuah produk yang berbunyi, “Rambut kakak bagus.” Kadang produknya mengandung kontradiksi, misalnya mengklaim produknya terbuat dari bahan-bahan tradisional untuk kecantikan perempuan Indonesia tetapi model iklannya adalah para gadis blasteran. Bahkan perusahaan kosmetika ini mengklaim produknya dengan nama yang cukup aneh di telinga saya : putih langsat. (Mengenai ke-putih-an ini dibahas oleh Aquarini Prabasmoro dalam bukunya Becoming White).

Beauvoir benar bahwa okupasi perempuan pada tubuhnya membuat waktu perempuan semakin terbatas untuk memikirkan hal lain atau melakukan aktivitas lain di luar perihal kebertubuhan. Waktu membaca misalnya, pada perempuan menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan waktu yang diluangkannya untuk mengusapkan lotion pemutih, memoles bedak, mengulas maskara pada matanya, ataupun memilih busana yang hendak dikenakan.  Tidak heran jika jumlah laki-laki yang menjadi ilmuwan lebih banyak dibanding perempuan.

Kebertubuhan perempuan dapat membawa dampak lain yang tidak kalah negatif.Anorexia dan bulimia nervosa, dua jenis gangguan makan yang tercatat dalamDiagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sebuah panduan gangguan psikiatris,  merupakan gangguan yang boleh dikatakan ‘khas’ perempuan. Gangguan makan ini bukan hanya berbahaya secara psikologis, melainkan juga secara fisik dapat mengancam kematian.  Diet ketat, bedah plastik, dan sedot lemak juga dapat mengancam nyawa perempuan. Rasa rendah diri, kecemasan, dan depresi banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Ditemukan pula bahwa ketiga kondisi ini banyak terjadi pada perempuan pasca melahirkan dan menopause.

Lantas salahkah perempuan? Sakitkah perempuan? Mengadopsi pandangan Alfred Adler, bukan perempuan yang salah, melainkan masyarakat. Bukan perempuan yang neurotik, melainkan budaya kita. Budaya kita telah mengkonstruksi perempuan menjadi objek tatapan laki-laki. Perempuan-perempuan ini bersusah payah menjadi ‘cantik’ untuk memuaskan pandangan laki-laki. Perempuan dididik untuk mengikuti keinginan dan harapan laki-laki.

Saya sempat kesal pada perempuan yang menteror saya dan teman saya itu. Sampai kemudian saya menyadari ia sendiri adalah korban dari budaya yang telah mengkonstruksinya menjadi perempuan narsis. Menurut Beauvoir, perempuan narsis menjadi obyek pentingnya sendiri. Ia percaya bahwa dirinya adalah obyek sebagaimana ditegaskan oleh orang di sekitarnya. Ia terpesona dan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri : wajah, tubuh, dan pakaiannya. Dengan demikian, saya pun tidak dapat menyalahkannya. Sikap menyalahkan itu hendak saya alamatkan pada budaya patriarkis yang telah menggiring perempuan menjadi narsis dan neurotik.

Bahkan harus saya akui, terlahir sebagai perempuan dalam budaya yang telah dikonstruksi, hal-hal itupun sempat saya rasakan. Terkadang saya cemas ketika tiba-tiba rasanya sulit mengendalikan nafsu makan saya yang cukup besar, tiba-tiba pakaian mulai kesempitan, atau perut mulai membengkak. Kadang saya kesal dengan diri sendiri yang tidak pandai berdandan meski hanya sekedar mengulas maskara. Sampai akhirnya pada suatu titik saya berhenti dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya mau menjadi korban budaya yang sakit ini?

Namun tentunya kita tidak hanya berhenti pada menyalahkan budaya yang telah menyuburkan reinforcement terhadap kebertubuhan perempuan. Konstruksi budaya semacam ini seharusnya didekonstruksi. Saya melihat sudah mulai ada iklan-iklan produk yang cukup baik dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dovemisalnya yang menampilkan bintang iklan yang adalah perempuan ‘biasa’. Dove juga menampilkan model tidak hanya dengan satu jenis rambut, yaitu rambut panjang nan lurus. Namun dalam iklan Dove ada rambut ikal, berombak, lurus, panjang, dan pendek.

Body Shop juga cukup konsisten dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dalam sebuah produknya, Body Shop menggunakan model iklan berkulit coklat dengan perut yang tidak sedatar perut perempuan dalam iklan-iklan produk lain. Body Shop juga pernah mengeluarkan slogan yang kurang lebih berbunyi,”Tidak harus putih dan langsing untuk menjadi cantik.” Slogan tersebut menyertai gambar perempuan bertubuh gemuk. Semoga saja ada produk-produk lain yang mau mengikuti jejak kedua produk ini sehingga kecantikan perempuan dapat didefinisikan ulang. Bahkan sebaiknya maknanya diperluas hingga melampaui kebertubuhan.

No comments:

Post a Comment