Monday, 21 February 2011

french women don't get fat

Setiap orang punya cara masing-masing untuk menikmati pertambahan usia. Tapi boleh juga kita mengintip rahasia wanita Perancis yang terkenal dengan penampilan mereka yang chic. Sejumlah nama beken, mulai dari Catherine Deneuve, Juliette Binoche, sampai first lady Carla Bruni, selalu tampil cantik dan keren seiring usia mereka. Sepertinya, jika memang ada rahasia untuk `menua` dengan anggun dan stylish, mereka sudah tahu lebih dulu. Boleh jadi, larisnya buku French Women Don`t Get Fat karya Mireille Guilliano adalah karena orang menganggap wanita Perancis lebih tahu urusan penampilan; dari pola makan, gaya hidup, sampai cara mereka merawat diri. Kiat mereka yang terpenting adalah `never neglect yourself, not even in the tinniest details`, seperti yang dikutip Ann M. Morrison di The New York Times, beberapa bulan lalu.

French Women early 20`s
Menurut penulis yang melakukan survei informal di Paris itu, seorang wanita Perancis akan segera berupaya `memindahkan` kembali jarum timbangan ke angka ideal bila beratnya naik 1-2 kilo. Uniknya, wanita Perancis dikenal tidak suka berolahraga – tak seperti wanita Ameriak yang tergila-gila mendatangi gym atau menyewa personal trailer. Satu-satunya olahraga yang mereka lakukan adalah berjalan kaki. Daripada datang ke pusat kebugaran, wanita Perancis memilih merawat diri di Spa.
Usia juga tampaknya bukan penghalang bagi wanita Perancis untuk tetap tampil fashionable. Tubuh ramping dan kulit segar adalah salah satu kunci penampilan menarik mereka. Untuk merawat kecantikan kulit saja, wanita Perancis – khususnya wanita Paris – menghabiskan 2,2 miliar dollar AS setiap tahunnya. Jumlah ini setara dengan yang dibelanjakan wanita Spanyol, Jerman, dan Inggris berbarengan.
Maka, tak heran jika les parisienne ini akrab dengan produk perawatan kulit komplit plus bantuan dokter kecantikan. Rias wajah tipis-tipis adalah `senjata` andalan mereka. Jadi, kalaupun melakukan bedah plastik – teknologi ini kelihatannya tidak pernah kontroversial di sana – mereka lebih suka tidak ada yang tahu bedanya. Pasalnya, bedah plastik bagi mereka ditujukan untuk memperbaiki (menjadi lebih baik), bukan untuk menambah atau mengurangi. Kata kuncinya : tampil senatural mungkin.


Seorang penulis Perancis, Francoise sagan, pernah menulis, "Ada waktunya seorang wanita harus cantik untuk dicintai, dan akan datang pula waktunya ketika dia harus dicintai untuk tampak cantik."


 

Perempuan dalam perspektif laki-laki

bila ditanyakan pada laki-laki yang mereka benar-benar dambakan dari seorang perempuan, kebanyakan menjawab kecantikan lahiriah. Studi di Amerika Serikat menunjukkan selama lebih dari 50 tahun jawaban pria sama saja. Mereka ingin perempuan yang cantik dan menggairahkan. Itu sebabnya, semakin banyak dokter operasi plastik yang semakin kaya. Pada tahun 1996, survei di 13 negara menunjukkan bahwa laki-laki senang dengan perempuan yang mempunyai buah dada montok seimbang dengan bentuk tubuhnya, bibir penuh, mata besar, hidung ramping, dan pinggangnya kira-kira 60 persen lebih kecil dari besar pinggulnya, visualnya seperti gitarlah. Di tambah lagi, perempuan dambaan mereka tidak boleh terlalu gemuk atau terlalu kurus,  kebanyakan laki-laki memilih perempuan yang mempunyai tubuh yang berbentuk, liku-liku yang indah (1). Tentunya ada pengecualian, seperti di suku Azande di bagian timur Sudan, dan di Uganda, yang memilih buah dada yang panjang seperti pendulum, ketimbang buah dada yang montok.

Pertanyaan ini sudah lama menunggu kaum feminis bahwa kecantikan perempuan dibentuk atas dasar tirani. Mengapa perempuan harus mengikuti definisi kecantikan yang dibuat oleh laki-laki? Mengapa ia selalu menyetujui dijadikan obyek seks laki-laki? Kenapa perempuan harus menerima perlakuan ini? bukankah fantasi seksual ini adalah milik laki-laki dan bukan miliknya? Perempuan ketika ditanyakan apa yang mereka inginkan dari laki-laki, akan selalu menjawab dihargai, dicintai, dan disayang. Berbeda sekali dari laki-laki yang dari awal akan menggambarkan gadis pujaannya menjadi simbol seks. Tetapi, tentunya ini sekadar penciptaan fantasinya.  dalam kehidupan sehari-hari laki-laki, yang ia bawa ke pelaminan adalah perempuan baik-baik yang dapat diterima keluarganya. Tetapi, tetap saja laki-laki yang belum menikah atau sudah menikah akan terus-menerus menciptakan fantasinya. Fantasinya kira-kira begini; ia memenangkan sebuah piala dunia, diarak-arak, memiliki mobil mewah yang terbaru, cewek lima orang, bos di perusahaan besar, menjadi jagoan di komunitasnya, menyelamati Angelina Jolie yang dengan pasrah minta pertolongan.(2)

(1) The Times, 8 May 1996, hal.16.
(2) Gadis, Arivia, Feminisme : Sebuah Kata Hati, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 67. 

feminisme dan perkembangannya 2

Istilah feminis pertama kali digunakan di dalam literatur barat baru pada tahun 1880, yang secara tegas menuntut kesetaraan hukum dan politik dengan laki-laki. istilah ini masih terus diperdebatkan, namun secara umum bisa dipakai untuk menggambarkan ketimpangan jender, subordinasi, dan penindasan terhadap perempuan (1).

sejarah pemikiran feminisme mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang konkret serta mempersoalkna perdebatan jender yang menyebabkan ketidakadilan sosial. pemikiran sosiologis, ekonomi dan poltik dapat dilihat secara mengental di dalam teori feminsime liberal, radikal dan marxisme yang mngedepankan argumentasi jender. Teori feminisme tersebut yang digolongkan sebagai teori feminisme gelombang pertama mengajukan pertanyaan bersifat sosiologis serta peranan perempuan di dalamnya telah mempermasalahkan kedudukan dan posisi perempuan di masyarakat, terutama persoalan hak sipilnya. di dalam pengelompokkan gelombang pertama femnisme ini pulalah, ditunjukkan peranan patriarki dalam mengahmabt kemajuan perempuan.

pada dasarnya, teori feminisme telah menyumbangkan pemikiran yang luar biasa tentang persoalan ketidakadilan sosial. pada gelombang kedua,  pemikiran feminisme buka lagi memfokuskan diri pada pertanyaan melakukan pergerakan politis seperti pada teori feminisme gelombang pertama. akan tetapi, lebih pda mempertanyakan peranan jender. gelombang kedua teori feminisme memberikan penjelasan umum tentang konsep fundamental penindasan terhadap perempuan dan rspons terhadap kritik Marxisme. pada tahap teori ini, pembahasan difokuskan pada perbedaan yang diciptakan antara perempuan dan laki-laki yang terjadi secara mengakar dengan dibahasakan kodratiah. perspektif pada gelombang ini kemudian melahirkan perempuan dan laki-laki sama atau setara. perspektif ini ingin mendorong masyarkat untuk menerima perempuan dalam posisi yang sama dengan laki-laki. namun, di dalam pembahasan gelombang teori ini pula, lahir konsep perbedaan yang mengakui cir-ciri khusus perempuan (karakterisrik perempuan) yang bukan berarti inferior terhadap perempuan (gynocentrisme). bahkan beberapa karakteristik tersebut dapat dianggap mempunyai nilai tambah daripada karakteristik laki-laki. teori feminisme gelombang kedua merupkan teori yang semakin bergelut dengan wacana-wacna, yang dimulai dengan pemeriksaan terhdap psyché perempuan untuk mencari penyebab penindasan terhadap perempuan.

dari sekian banyak teori yang dibahas di dalam tulisan ini, feminisme harus diakui memiliki pemikiran progresif yang mampu mengadkan perubahan sosial maupun perubahan intelektual selama era modernisme dan ikut memberikan masukan berarti dalam munculnya teori postmodenisme. era postmodernisme diperkenalkan leat seni postmo yang mengkritik dikotomi highart dan low art. dalam arsitektur, perdebatan postmodern ditandai oleh dikotomi modern dan tradisional yang mengabur. tataran epistemologis postmodern memberikan kegairahan ilmiah baru yang mulai lelah dengan pengagungan empirisme, rasionalisme, dan seluruh teori besar yang dimulai sejak abad pencerahan.

bila di dalam pemikiran pemikiran modern terdapat oposisi biner yang tajam, maka di dalam pemikiran postmodern oposisi tersebut dihilangkan. Maka, dalam feminisme postmodern, dikotomi identitas laki-laki dan perempuan juga tidak menjadi relevan. postmdernisme mengatakan bahwa seluruh realitas terdiri dari teks, oleh sebab itu, pengetahuan tentang perempuan maupun laki-laki adalah tekstual. Dengan demikian, kontribusi terbesar pemikiran feminisme postmodernisme adalah dekontruksi teks yang bias jender.

kritik postmodernisme mempunyai kesamaan dengan postfeminisme tentang dominasi wacana sentral, metanarasi laki-laki yang menghasilkan perdebatan posisi epistemologis baru. Namun, ada sikap ambivalensi kelompok feminisme terhadap postmodernisme. di satu pihak, feminisme mempunyai alat baru dalam menafsirkan teks perempuan, tetapi di lain pihak ada ketidakpuasan feminisme terhadap postmodernisme, yakni kecenderungannya meminggirkan analisis jender. kaum feminis khawatir dengan pernyataan feminis postmodernisme atau post feminis, seperti Linda Nicholson. persoalan tokoh feminis postmo ini adalah tidak mau terang-terangan memihak feminis, tetapi lebih nyaman mengutak-atik argumentasi wacan, identitas, nasionalitas, dan perbedaan. namun, bagaimnapun juga perdebatan wacana feminisme postmodern telah berhasil mendekontruksi wacana sentralistik dan narasi filsaft barat yang mendominasi. Lewat alat baru ini, postkolonialisme dapat pula mendongkrak wacana imperialisme. postmodernisme, postkolonialisme, dan postfeminisme sepintas terlihat bergandengan tangan dalam teori, dan bagi feminis kontemporer, manfaat yang dapat dipetik adalah alat ketiga, post ini dapat membongkar wacana besar patriarkal dan menumbuhkan wacana marjinal seperti perempuan. di sinilah Nicho;som berkutat dan menyatakan bahwa pada akhirnya mengkaji wacana-wacana ini menjadi jauh lebih penting, tidak lagi hanya pergerakan politik feminisme saja. sebagai akibatnya, feminisme postmodernisme dan postfeminisme dianggap kurang mempunyai kekuatan politis.

hal lain yang membuat paradigma feminisme berubah adalah adanya kegerahan pada pemaksaan representasi perempuan di dalam semua aspek kehidupan manusia yang digembar-gemborkan sejak gerakan feminisme di awal tahun 1970-an. misalnya saja pendapat Catherine Mac Kinnon yang menyatakan bahwa lewat proses sosialisasi relasi jender inilah perempuan mengerti kedudukannya sebagai makhluk seksual yang hanya bisa eksis karena laki-laki. oleh sebab itu, pembahasan seksualitas perempuan menjadi penting. pemahaman kekuasaan seksualitas memberikan gambaran yang terang tentang ketertindasan perempuan baik di lingkup domestik dan publik. isu kesetaraan menjadi penting di hampir segala sektor dan perempuan menuntut haknya. dengan demikian, representasi perempuan menjadi keharusan dan kadangkala menjadi pemaksaan dalam semua aspek kehidupan.

apapun polemiknya, harus diakui bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh para feminis di Barat merupakan kerja keas lebih dari 20 tahun yang menggembirakan untuk sebagian besar perempuan yang kini telah merasakan manfaatnya. akan tetapi, satu hal yg perlu diperhatikan adalah bahwa representasi perempuan ini dapat menjadi wacana yang mendominasi dan pada akhirnya membentuk gaya otoriter yang baru. tentunya hal ini menumbuhkan kejenuhan pada generasi muda perempuan, generasi x, yang tidak lagi memandang perlu untuk ikut-ikutan seperti ibu bahkan nenek mereka bergerombol menjadi feminis dan teriak-teriak di jalan. masa-masa itu bagi mereka sudah usang. Ada era baru, kegairahan baru, cara pandang, dan epistemologi baru yang ditawarkan di era komputerisasi atau postmodern ini dan kelihatannya bagi perempuan muda generasi tahun 2000-an sekarang ini, formulasi tentang identitas seksual mereka, dirumuskan berbeda (2).


(1) Bryson, Valerie, Feminist Political theory, macMillan, 1992, hal 1
(2)Arivia, Gadis. Feminisme : Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 18-22

perkembangan feminisme di Prancis

feminisme adalah sebuah kata yangs sebenarnya tidak mempunyai arti pasti yang dapat diformulasikan sebagai definisi karena setiap gerakan feminisme memiliki kepentingan masing-masing yang ingin diperjuangkan. namun, jika dilihat secara umum, feminisme menurut KBBI adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria.

gerakan ini terus berkembang di Prancis dari waktu ke waktu. feminisme sendiri secara global terbagi atas tiga tahap, yaitu feminisme gelombang pertama, feminisme gelombang kedua, dan feminisme gelombang ketiga. feminisme awal yang dimulai sejak tahun 1800-an, khususnya setelah terjadi revolusi prancis pada tahun 1789, merupakan gambaran feminisme gelombang pertama yang menitikberatkan perjuangan kaum feminis untuk mencapai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki yang mencakup bidang sosial, ekonomi dan politik. di bidang sosial,, kaum feminis menandai bahwa hak-hak perempuan sangat terbatas. tradisi menghendaki perempuan menjadi pengurus rumah tangga dan keluarga, sehingga sebagian besar masa hidupnya hanya dihabiskan dalam lingkungan rumah. Di samping itu, perempuan juga tidak diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi, memangku jabatan-jabatan tertentu, atau menekuni profesi-profesi tertentu. keterbatasan perempuan dalam bidang sosial juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi mereka. sebagian besar lapangan kerja tertutup bagi perempuan dan kalaupun mereka diberi kesempatan untuk mencari nafkah, upah yang diterima mereka akan jauh lebih rendah daripada upah yang diterima laki-laki.

sementara, bidang politik dipilih kaum feminis sebagai jalan keluar untuk segala tuntutan mereka yang tidak juga  dipenuhi oleh pemerintah. mereka juga beranggapan bahwa keadaan perempuan tidak akan mengalami kemajuan jika pemerintahan tetap dikuasai dan didominasi oleh laki-laki (Soenarjati Djajanegara 2000: 6-7). setelah mendapatkan hak dipilih dan memilih (suffrage) dalam bidang politik yang telah lama diperjuangkan oleh kaum feminis, gerakan feminisme mulai mengendur dan baru muncul kembali pada tahun 1960-an.

pada feminisme gelombang kedua, banyak tokoh-tokoh feminis yang kembali bermunculan dan menyampaikan pendapatnya melalui berbagai media, salah satunya melalui media tulisan. mereka menulis roman sebagai bentuk ekspresi mereka dalam menyoroti kedudukan perempuan di dalam masyarakat yang cenderung masih dianggap lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki. dengan semakin majunya dunia tulis-menulis kaum feminis, pada abad ke-20 muncul istilah l'ecriture feminine, di Prancis adalah Simone de Beauvoir, dengan karyanya yang berjudul Le deuxieme Sexe (1949). Karya ini menandai pembaharuan dalam perkembangan feminisme di Prancis pada pertengahan abad ke-20, yang didukung juga oleh munculnya gerakan feminisme di berbagai belahan eropa, termasuk Prancis pada tahun 1960-an dan revolusi seksual yang terjadi di negara-negara Barat. gerakan feminisme gelombang kedua ini banyak membahas mengenai persoalan perempuan seperti kondisi inferioritas dan ketertindasan perempuan di tengah masyarakat. hal mengenai seksualitas dan kebebasan perempuan atas tubuhnya juga banyak dibahas pada gelombang ini karena berkaitan dengan dominasi laki-laki atas perempuan.

sementara itu, pada feminisme gelombang ketiga, kaum feminis menggali persoalan mengenai inferioritas perempuan yang bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem. tokoh feminisme postmodernisme antara lain, Helene Cixous, Luce Irigaray, Julia Kristeva, francoise sagan, dsb. selain itu, feminisme gelombang ini juga melihat penindasan perempuan yang berkaitan dengan masalah ras, etnis, dsb.

Sunday, 20 February 2011

kenapa harus menjadi feminis?

bayangkan dunia tanpa feminisme apa jadinya? dunia yang tidak memperbolehkan perempuan mengenyam pendidikan tinggi, tidak memperbolehkan perempuan memegang jabatan politik atau berkarier bahkan memilih sikap hidup untuk menikah atau tidak menikah, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak, dst.

Walaupun hasil kerja para feminis telah banyak memajukan kehidupan perempuan, keberadaan para feminis tidak selalu disambut dengan tangan terbuka. feminisme seringkali digambarkan secara buruk oleh berbagai macam kelompok. di tingkat politik, feminisme dianggap mengambil porsi kekuasaan laki-laki. argumentasi kuota 30 persen bagi perempuan di politik tidak dilihat sebagai suatu tindakan affirmative action yang berguna bagi kelompok minoritas (tidak berdaya) manapun.

Di tingkat budaya, segala efek negatif kemajuan budaya kontemporer dianggap bersumber pada feminisme. Misalnya, adanya kebebasan berhubungan seksual, perceraian, peningkatan jumlah anak yang narkoba, pakaian yang minim/seksi, dll. Bahkan, para feminis cenderung dianggap kelompok pemarah yang mempertanyakan dan menggugat segala hal. Namun, tidak ada yang pernah bertanya mengapa para feminis begitu marah degan keadaan yang tidak adil? tidakkah wajar bila seseorang merasa marah bila diperlakukan tidak adil?(1)

Alison Jagger, seorang feminis, memberi penjelasan ketertindasan perempuan sebagai berikut(2) :

1. bahwa perempuan secara historis merupakan kelompok yang tertindas.
2. bahwa ketertindasan perempuan sangat meluas di hampir seluruh masyarakat mana pun.
3. bahwa ketertindasan perempuan merupakan bentuk yang paling dalam dan ketertindasan yang paling sulit untuk dihapus dan tidak dpat dihilangkan dengan perubahan-perubahan sosial seperti penghapusan kelas masyarakat tertentu.
4. bahwa penindasan terhadap perempuan menyebabkan kesengsaraan yang amat sangat terhadap korbannya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, walaupun kesengsaraan tersebut tidak tampak karena adanya ketertutupan, baik yang dilakukan oleh pihak penindas maupun tertindas.
5. bahwa pemahaman penindasan terhadap perempuan pada dasarnya memberikan model konseptual untuk mengerti bentuk-bentuk lain penindasan.


(1)Arivia, Gadis. Feminisme : Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 2-4
(2)Arivia, Gadis. Filsafat Berperspektif Feminsime. Yayasan Jurnal Perempuan, 2003, hal.100-103

apakah itu feminisme?

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yg menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dgn pria.
Tokohnya disebut Feminis.
Feminisme sbg filsafat dan gerakan berkaitan dgn Era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.


Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dlm realitas sosialnya.
Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tdk memiliki hak-hak seperti hak utk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan.
Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tdklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum.
Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah utk perempuan pertamaX didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.

Kata feminisme dicetuskan pertamaX olh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837.
Pergerakan yg berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, "Perempuan sebagai Subyek" pd tahun 1869.

Secara umum kaum perempuan merasa dirugikan dlm semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki dlm bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya - terutama dlm masyarakat yg bersifat patriarki.
Dalam masyarakat tradisional yg berorientasi Agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di dpn, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dlm rumah.
Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika dtgnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-18 yg merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
Adanya fundamentalisme agama yg melakukan opresi thdp kaum perempuan memperburuk situasi.
Di lingkungan agama Kristen trjd praktek-praktek dan kotbah-kotbah yg menunjang hal ini ditilik dari byknya gereja menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan "tua" hanya dapat dijabat oleh pria.
Pergerakan di Eropa untuk "menaikkan derajat kaum perempuan" disusul olh Amerika Serikat saat trjd revolusi sosial dan politik.
Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul "Mempertahankan Hak-hak Wanita" (Vindication of the Right of Woman) yg berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yg digunakan dikemudian hari.
Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yg cukup mendapatkan perhatian dr para perempuan kulit putih di Eropa.
Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yg mereka sebut sbg keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood).
Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, mjd awal bagi perempuan mendptkn hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dgn diikutsertakannya perempuan dlm hak suara parlemen.
Gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dgn kelahiran dekonstruksionis, Derrida.
Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yg byk didominasi oleh nilai-nilai maskulin.

Beberapa Aliran Feminisme

Feminisme Liberal
pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual.
Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik.
Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan.
Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri.
Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Feminisme Radikal
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan".
Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi.
Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada.
Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang "radikal".
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki.
Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki.
Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik.
Feminisme Post Modern
Feminisme Modern ide Posmo (aliran pemikiran yang sekaligus menjadi gerakan yang bereaksi
terhadap kegagalan manusia menciptakan dunia yang lebih baik) ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah.
Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
Feminisme Anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme.
Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi.
Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property).
Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange).
Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial.
Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property.
Kaum Feminis Marxis, menganggap bahwa negara bersifat kapitalis yakni menganggap bahwa negara bukan hanya sekadar institusi tetapi juga perwujudan dari interaksi atau hubungan sosial.
Feminisme Sosialis
Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan.
Lembaga perkimpoian yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis.
Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh.
Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan.
Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan.
Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu.
Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung.
Feminisme Postkolonial
Feminisme Postkolonial pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat.
Feminisme Nordic
Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.
Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktek-praktek yeng bersifat mikro.
Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.

Di sendiri, di akhir abad ke-19 perempuan-perempuan muda terlibat dlm perjuangan bersenjata melawan penjajah.
Sebatas membantu suami pd awalnya, tetapi kemudian sungguh-sungguh menjd pemimpin pasukannya. Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu bersama Kapitan Pattimura, Emmy Saelan mendampingi Monginsidi, serta Roro Gusik bersama Surapati.
Lalu ada Wolanda Maramis dan Nyi Ageng Serang.
Tak perlu msk sekolah Belanda utk membangun gerakan nasional, para perempuan ini angkat senjata dgn gigih, dan membyr nyawanya di tiang gantungan sprti Tiahahu.
Alangkah bsrnya sumbangan yg diberikan oleh Gerakan Pembebasan Nasional kpd perkembangan gerakan perempuan.
Di satu sisi, berbagai oganisasi nasional ataupun partai politik saat itu berupaya membgn sayap perempuannya sendiri, ataupun mendukung dan didukung oleh perjuangan perempuan di satu sektor atau kls tertentu.
Di sisi lain, perkembangan gerakan berbasiskan agm seperti Muhammadiyah, trt pula membntk polarisasi dlm gerakan perempuan.


feminisme dan perkembangannya

Pertama kali suara feminisme terdengar di daratan Inggris pada abad ke-17. Dua ratus tahun kemudian, lebih banyak suara mulai bicara secara berkelompok. Selanjutnya, terdengar pula di Perancis dan Amerika Serikat. Feminisme yang terorganisir muncul saat transformasi ekonomi-politik kapitalisme terjadi, yaitu ketika industri mulai berkembang di Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat yang mengadopsi sistem politik demokrasi perwakilan. Perubahan ekonomi dan politik secara drastis ini merubah situasi perempuan dan cara merasakan situasi tersebut. Kebanyakan perubahan ini merupakan hasil transformasi signifikan ekonomi dan politik keluarga.

Awal periode modern, proses produksi diorganisir melalui rumah tangga. Dan, kalangan keluarga bangsawan masih memiliki pengaruh politik yang penting meskipun sistem feodal telah digantikan oleh negara yang tersentralisir. Dalam keanggotaan keluarga, perempuan terjamin statusnya baik dalam proses produksi maupun pemerintahan. Meskipun demikian, status itu lebih rendah daripada laki-laki. Perempuan kalangan bangsawan sangat menikmati kekuasaan politiknya melalui pengaruhnya terhadap keluarga mereka. Dan, perempuan yang telah menikah yang bukan dari kalangan bangsawan memiliki kekuasaan dalam bidang ekonomi di keluarganya karena proses produksi dikelola melalui rumah tangga.

Era praindustri, sebagian besar perempuan terintegrasi secara solid dalam sistem kerja produktif yang diperlakukan untuk kelangsungan hidup keluarganya. Masa ini, perawatan anak dan segala sesuatu yang kita kenal dengan pekejaan domestik hanya sebagian dari waktu kerja perempuan. Sebagai tambahan tugas domestik ini, sebagian besar perempuan memberi kontribusi penting untuk proses produksi pangan melalui beternak unggas dan lebah; membuat susu, menanam sayuran; mereka bertanggung jawab atas proses dan pengawetan pangan; memintal kapas dan wol lalu menjahit atau merajutnya menjadi pakaian; membuat sabun dan lilin, mengakumulasikan pengetahuan obat-obatan dan memproduksi ramuan tumbuh-tumbuhan yang manjur. Kontribusi penting perempuan bagi kelangsungan hidup masyarakat sangat jelas sehingga tidak ada alasan untuk mempertanyakan kembali tempat perempuan dalam masyarakat sebagai kenyataan alamiah.

Dampak industrialisasi, bersamaan dengan tumbuhnya negara demokrasi, meruntuhkan dan merombak total hubungan tradisional yang telah terumuskan oleh masyarakat praindustri. Industrialisasi mentransformasi keluarga dan mengacaukan posisi tradisional perempuan. Perempuan dari kelas yang lebih tinggi kehilangan kekuatan politiknya dengan kemunduran posisi keluarga aristokratis dan tumbuhnya negara demokrasi. Demikian pula perempuan dari kelas yang lebih rendah. Industrialisasi telah memindahkan kerja tradsional perempuan di rumah tangga ke pabrik. Sekalipun, banyak perempuan bekerja di pabrik khususnya awal periode industrialisasi. Kerja tradisional yang dimaksudkan ialah kontrol perempuan dikurangi pada industri vital seperti pengolahan makanan, tekstil, dan garmen. Penurunan kontribusi perempuan dalam rumah tangga kemudian meningkatkan ketergantungan mereka pada suami dan melemahkan kekuatannya berhadapan dengan suaminya.

Pada saat yang sama, perubahan ekonomi dan politik mengarah pada pembatasan status ekonomi dan politik perempuan. Hal itu memberikan janji tentang status baru perempuan. Salah satunya, tidak menyebutkan soal keanggotaan keluarga. Misalnya, pabrik dengan sistem upah dan kesempatan kerja dibuka untuk perempuan. Hal ini awal kemerdekaan ekonomi di luar rumah tangga yang terpisah dari suami. Demikian juga, idealisme demokrasi baru yaitu kesetaraan dan otonomi individu yang menyediakan dasar bagi perubahan anggapan tradisional tentang subordinasi perempuan oleh laki-laki. Hal yang bertentangan dari pembangunan ekonomi dan politik ialah bahwa posisi perempuan dalam masyarakat tak lagi sebagai kenyataan alamiah. Malah, perempuan, sebagaimana dimaksudkan kalangan Marxis dengan istilah "persoalan perempuan". Persoalan tersebut menunjukkan tempat perempuan dalam masyarakat industri yang baru dan banyak jawaban diajukan oleh kalangan feminisme yang terorganisir tentang itu.

Dalam dua atau tiga abad keberadaannya, feminisme yang terorganisir tak lagi bicara dengan suara tunggal. Sebagaimana feminisme awal muncul sebagai respon terhadap perubahan kondisi masyarakat Inggris abad ke-17, maka perubahan lingkungan sejak itu mendorong tampilnya tuntutan kalangan feminis. Misalnya, soal hak pilih dan keluarga berencana merupakan sasaran kampanye mereka. Sebagian besar kebangunan feminisme muncul akhir 1960-an dengan gerakan pembebasan perempuan. Gerakan ini melampaui semua gelombang feminisme sebelumnya, dalam memperluas konsentrasi dan kedalaman kritikannya. Gerakan itu lebih umum daripada gerakan feminis sebelumnya, yakni dengan sajian analisis yang multidimensi tentang penindasan terhadap perempuan dan melimpahnya pandangan mengenai pembebasan perempuan.

"Feminisme" berasal dari bahasa Perancis. Di Amerika Serikat, feminisme dikenal sebagai "gerakan perempuan" abad ke-19. Dalam arti, berbagai jenis kelompok yang semua tujuannya sejalan ataupun tidak, mengarah pada "kemajuan" posisi perempuan. Ketika istilah "feminisme" diperkenalkan ke Amerika Serikat awal abad ke-20, hal itu hanya merujuk pada kelompok khusus kegiatan yaitu advokasi hak asasi perempuan. Kelompok yang menegaskan keunikan perempuan, pengalaman misterius dari keibuan dan kemurnian khas perempuan. Ehrenreich dan Inggris menyebut trend dalam gerakan perempuan ini sebagai "romantisme seksual". Lawannya ialah kecenderungan dominan "rasionalisme seksual". Berseberangan dengan feminis romantis, maka feminis rasionalis seksual berpendapat bahwa subordinasi perempuan tak rasional bukan karena perempuan lebih lemah daripada laki-laki, melainkan menyangkut persamaan dasar antara perempuan dan laki-laki. Dalam konteks kini, makna "feminnisme" abad ke-19 telah menghilang. Sekarang, feminisme umumnya mengacu pada semua usaha yang mencoba, tidak peduli latar belakang nya, untuk mengakhiri subordinasi. Feminisme ini penggunaannya ditentang oleh beberapa aktivis seperti Linda Gordon. Oleh karena, kaum feminis menuntut agar usaha itu menyentuh tiap aspek kehidupan. Istilah feminisme membawa perubahan emosional yang kuat. Dalam beberapa hal, ada makna yang merendahkan namun ada yang menghargai. Pada gilirannya, beberapa orang menyangkal istilah "feminis" terhadap mereka yang menuntut dan yang memberikan kesetujuan pada pihak yang menerimanya. Teori mereka masih merupakan konsep keadilan. Dapat dikatakan bahwa teori feminis belum cukup kuat jika masih bersifat konseptual.

Gerakan pembebasan perempuan menjadi ragam pokok feminisme masyarakat Barat kontemporer. Beraneka nama gerakan demikian mencerminkan konteks politik asal kemunculannya dan kata-kunci yang membedakannya dari bentuk feminisme awal. Feminisme awal menggunakan bahasa "hak" dan "kesetaraan", namun feminisme akhir 1960-an menggunakan istilah "penindasan" dan "kebebasan". Istilah itu menjadi kata kunci untuk kalangan aktivis politik. Dalam perkembangan gerakan pembebasan (pembebasan kulit hitam, gay, pembebasan dunia ketiga, dsb.) tak terhitung nilainya bahwa feminisme itu menyatakan dirinya sebagai "gerakan pembebasan perempuan". Perubahan dalam bahasa merefleksikan suatu perkembangan pemikiran yang bermakna di dalam perspektif politik feminisme kontemporer.

Asal-usul istilah "penindasan" yaitu dari bahasa Latin yang artinya, "menekan atas" atau "menekan melawan". Maksudnya, seseorang yang ditekan mengalami pembatasan atas kemerdekaannya. Tidak semua pembatasan atas kemerdekaan individu bersifat penindasan. Seseorang tidak ditindas oleh fenomena alam yang sederhana, seperti kekuatan daya tarik bumi, salju, dan kekeringan. Malah, penindasan merupakan hasil perantaraan manusia. Secara manusiawi, itu memungkinkan pembatasan kemerdekaan terhadap seseorang.

Tidak semua sifat yang membatasi kebebasan seseorang adalah penindasan. Penindasan harus bersifat tidak adil. Andaikata anda berada di sebuah kapal bersama sembilan orang lainnya, hanya ada enam porsi makanan, lalu makanan tersebut dibagi secara demokratis untuk kesepuluh orang yang ada dengan bagian yang sama, dan anda tidak dapat makan makanan satu porsi penuh. Maka, anda tidak dapat mengatakan bahwa hal ini sebagai bentuk pembatasan kemerdekaan anda atau bentuk penindasan. Sepanjang anda menerima pembagian itu secara adil. Oleh karenanya, penindasan adalah ketiakadilan yang membatasi kemerdekaan individu atau kelompok.

Pembebasan ada hubungannya dengan penindasan. Pembebasan mewujudkan pembatasan atas penindasan. Jelas dari rumusan itu bahwa ada hubungan konseptual antara penindasan dan pembebasan. Di atas satu telapak tangan dan idealisme politik tradisional dari kemerdekaan dan keadilan pada sisi lainnya. Berbicara tentang penindasan dan pembebasan, tidaklah sederhana untuk memperkenalkan istilah baru kepada gagasan lama. Ketika konsep penindasan dan pembebasan dihubungkan secara konseptual pada dataran filosofis yang umum seperti kemerdekaan, keadilan dan kesetaraan yang tidak bisa direduksi tanpa kehilangan konsepnya. Pembicaraan tentang penindasan dan pembebasan tidak hanya memperkenalkan terminologi politik baru, namun sebuah perspektif baru dalam dunia politik. Sebuah perspektif menyaratkan kedinamisan daripada statis di masyarakat dan dipengaruhi oleh ide Marxis dari perlawanan kelas. Penindasan adalah beban pembatasan; yang menganjurkan bahwa masalah itu bukan hasil dari ketidakberuntungan, ketidaktahuan atau prasangka tapi lebih karena sebuah kelompok yang secara aktif mensubordinasi kelompok lain demi kepentingannya sendiri. Oleh karena itu, berbicara masalah penindasan seperti komitmen para feminis menyangkut pandangan dunia yang mencakup sedikitnya dua kelompok dengan kepentingan yang berlawanan, antara penindas dan yang ditindas. Ada pandangan dunia yang menjelaskan bahwa perlahan-lahan pandangan dominan terhadap pembebasan bukan seperti yang dicapai oleh debat tradisional. Bahkan, kelompok menjadi hasil dari perlawanan politik.

Proses pelawanan lebih dari akhir penindasan yang mengadvokasi kebebasan dan karakterisasi yang lengkap dari tujuan akhir. Hal itu melemahkan usaha untuk merencanakan utopia, dengan menyusun konsep apa yang akan dibebaskan haruslah menjadi revisi yang terus-menerus. Pengetahuan alami manusia termasuk sifat manusia makin berkembang. Kita memperoleh lebih banyak pengetahuan menuju kemungkinan akan kebajikan manusia dan mempelajari bagaimana manusia bisa meraih itu melalui peningkatan kendali terhadap diri kita dan dunia. Kekeringan bukanlah kutukan Tuhan, melainkan hasil kegagalan untuk memperhitungkan konservasi air secara tepat. Penyakit dan kekurangan gizi tak lagi sesuatu yang tak bisa dihindari, melainkan hasil dari kebijakan sosial. Konsekuensinya, pembatasan yang dipandang sebagai kenyataan alami ditransformasi kedalam praktik penindasan. Secara bersamaan, wilayah kemungkinan kebebasan manusia diperluas. Pada prinsipnya, kebebasan bukanlah pencapaian akhir suatu keadaan melainkan proses eliminasi bentuk-bentuk penindasan yang muncul secara terus-menerus.

ukmkstpaulus.files.wordpress.com/2008/07/feminisme-kreasi1.doc , 9.19pm, 17 feb

Friday, 11 February 2011

Simone De Beauvoir Quotes

All oppression creates a state of war.
Quotation of Simone De Beauvoir
All the idols made by man, however terrifying they may be, are in point of fact subordinate to him, and that is why he will always have it in his power to destroy them.
Quotation of Simone De Beauvoir
Art is an attempt to integrate evil.
Quotation of Simone De Beauvoir
Buying is a profound pleasure.
Quotation of Simone De Beauvoir
Change your life today. Don't gamble on the future, act now, without delay.
Quotation of Simone De Beauvoir
Defending the truth is not something one does out of a sense of duty or to allay guilt complexes, but is a reward in itself.
Quotation of Simone De Beauvoir
I am incapable of conceiving infinity, and yet I do not accept finity.
Quotation of Simone De Beauvoir
I tore myself away from the safe comfort of certainties through my love for truth - and truth rewarded me.
Quotation of Simone De Beauvoir
I wish that every human life might be pure transparent freedom.
Quotation of Simone De Beauvoir
If you live long enough, you'll see that every victory turns into a defeat.
Quotation of Simone De Beauvoir
In itself, homosexuality is as limiting as heterosexuality: the ideal should be to be capable of loving a woman or a man; either, a human being, without feeling fear, restraint, or obligation.
Quotation of Simone De Beauvoir
In the face of an obstacle which is impossible to overcome, stubbornness is stupid.
Quotation of Simone De Beauvoir
It is not in giving life but in risking life that man is raised above the animal; that is why superiority has been accorded in humanity not to the sex that brings forth but to that which kills.
Quotation of Simone De Beauvoir
It is old age, rather than death, that is to be contrasted with life. Old age is life's parody, whereas death transforms life into a destiny: in a way it preserves it by giving it the absolute dimension. Death does away with time.
Quotation of Simone De Beauvoir
Life is occupied in both perpetuating itself and in surpassing itself; if all it does is maintain itself, then living is only not dying.
Quotation of Simone De Beauvoir
Man is defined as a human being and a woman as a female - whenever she behaves as a human being she is said to imitate the male.
Quotation of Simone De Beauvoir
No one is more arrogant toward women, more aggressive or scornful, than the man who is anxious about his virility.
Quotation of Simone De Beauvoir
One is not born a genius, one becomes a genius.
Quotation of Simone De Beauvoir
One is not born a woman, but becomes one.
Quotation of Simone De Beauvoir
One is not born a woman, one becomes one.
Quotation of Simone De Beauvoir
One is not born, but rather becomes, a woman.
Quotation of Simone De Beauvoir
One's life has value so long as one attributes value to the life of others, by means of love, friendship, indignation and compassion.
Quotation of Simone De Beauvoir
Representation of the world, like the world itself, is the work of men; they describe it from their own point of view, which they confuse with the absolute truth.
Quotation of Simone De Beauvoir
Retirement may be looked upon either as a prolonged holiday or as a rejection, a being thrown on to the scrap-heap.
Quotation of Simone De Beauvoir
Sex pleasure in woman is a kind of magic spell; it demands complete abandon; if words or movements oppose the magic of caresses, the spell is broken.
Quotation of Simone De Beauvoir
Society cares for the individual only so far as he is profitable.
Quotation of Simone De Beauvoir
Society, being codified by man, decrees that woman is inferior; she can do away with this inferiority only by destroying the male's superiority.
Quotation of Simone De Beauvoir
That a whole part of the middle class detests me... is utterly normal. I would be troubled if the contrary were true.
Quotation of Simone De Beauvoir
The most mediocre of males feels himself a demigod as compared with women.
Quotation of Simone De Beauvoir
The word love has by no means the same sense for both sexes, and this is one cause of the serious misunderstandings that divide them.
Quotation of Simone De Beauvoir
The writer of originality, unless dead, is always shocking, scandalous; novelty disturbs and repels.
Quotation of Simone De Beauvoir
This has always been a man's world, and none of the reasons that have been offered in explanation have seemed adequate.
Quotation of Simone De Beauvoir
To catch a husband is an art; to hold him is a job.
Quotation of Simone De Beauvoir
To make oneself an object, to make oneself passive, is a very different thing from being a passive object.
Quotation of Simone De Beauvoir
What is an adult? A child blown up by age.
Quotation of Simone De Beauvoir
When an individual is kept in a situation of inferiority, the fact is that he does become inferior.
Quotation of Simone De Beauvoir
Why one man rather than another? It was odd. You find yourself involved with a fellow for life just because he was the one that you met when you were nineteen.
Quotation of Simone De Beauvoir

kekerasan simbolik

Ayo kita kenalan sama tante ‘Simone de Beauvoir’, dia adalah ibunya dari feminism. Aku pun begitu menyanjungi teori-teorinya yang bisa dibilang ‘bagus banget’. Tante yang satu ini mempunyai pacar ‘cohabitation’ bernama om jean paul sartre. si om-om dengan kata-kata terkenalnya 'L'enfer de l'autre' yaitu neraka ada apabila kita berada di sekitar orang-orang, merupakan penganut ekstensialis humanism (tau sendiri dengan aliran ini, sama sekali tidak akan mencampur-adukkan Tuhan, masalah Tuhan dikesampingkan makanya om paul dan tante simone juga itu sama-sama atheis).

kata tante Simone, wanita itu terancam mendapat kekerasan ‘SIMBOLIK’.

Dalam bentuk apa sih? Biasanya dalam bentuk ucapan-ucapan baik secara langsung maupun tidak langsung. Teman-teman wanitaku, jangan-jangan di antara kalian telah mengalami kekerasan ‘SIMBOLIK’ tapi tidak menyadari, karena dengan alasan, ‘aku iklas, kok’.

Ada sih sebenernya contoh kecilnya, aku ambil dari sinetron yah, seorang cowok bilang ke pacarnya, ‘sayang, bagusan juga kamu badannya kurusan deh’.
Waaaah, ga beres ini, kasus ini, ini juga salah satu kekerasan ‘SIMBOLIK’, berarti si cowok itu tuh nyuruh kamu buat jadi apa yang dia mauin, maunya dia kamu tuh kurus, dan apabila kamu menerima dengan iklas dan memakan mentah-mentah omongan si cowok, berarti, kamu termasuk ‘TELAH’ mengalami kekerasan ‘SIMBOLIK’.
Padahal, kekerasan ‘SIMBOLIK’ itu dapat memacu kekerasan ‘FISIK’, serem kan teman wanitaku? Jadi, pikir-pikir dulu deh, sebelum bilang IYAH, kalau si cowok sudah mulai menggunakan kekerasan ‘SIMBOLIK’, dibalik topengKEKUASAAN SIMBOLIKnya.