Wednesday, 9 March 2011

akhirnya 'sedikit' terjawab


Sampai hari ini salah seorang teman saya selalu bilang kalau dirinya gendut dan ia rela membeli berbagai macam produk pelangsingan tubuh bahkan perawatan jutaan rupiah agar tubuhnya langsing kaya model. Tubuh ideal menurutnya adalah 45-49 kg. What de zig, saya baru tersadar karena berat tubuh saya di bawah itu (anehnya saya malah kepikiran, hmmm).

Seorang teman saya, yang berkulit putih seperti aktris Hongkong atau Korea, masih rela mengikuti pemutihan kulit seminggu dua kali. Tiap hari ia harus direpotkan dengan berbagai macam krim dari dokter untuk upaya pemutihan kulitnya itu. Setiap kami sedang mengikuti kuliah, ia akan selalu menyempatkan diri ke toilet, bukan untuk buang hajat, melainkan untuk memeriksa kadar minyak di wajahnya dan kemudian memulaskan kembali bedak di area itu.

kedua teman perempuan saya itu bukan hanya dua di antara sekian banyak perempuan yang seolah menekankan masalah kecantikan. Mungkin kebanyakan perempuan sangat memikirkan kecantikan. Sesama perempuan bahkan sering menganggap perempuan lain sebagai saingan untuk mendapatkan pengakuan atas kecantikannya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Perempuan sejak kecil memang sudah dibentuk untuk memperhatikan penampilan fisiknya. Perempuan mendapatkan penguatan (reinforcement) untuk tampilannya yang menarik di mata orang lain. Kalimat-kalimat seperti, “Wah pitamu bagus ya,” atau  “Kamu cantik sekali dengan gaun itu,” dan juga “Duh siapa yang kepang-in tuh rambutmu jadi manis begitu?” merupakan kalimat yang cukup sering terlontar dari mulut orangtua, saudara, tetangga, dsb kepada anak-anak perempuan.

Selain reinforcement dari lingkungan, media juga memiliki kekuatan luar biasa untuk mengkonstruksi kecantikan perempuan. Majalah-majalah menjejalkan perempuan dengan tips-tips kecantikan. Iklan produk kecantikan bertaburan di mana-mana, dengan cerita iklan tipikal : laki-laki akan menatap dengan penuh kekaguman pada perempuan yang kulitnya sudah berubah menjadi putih, yang rambutnya sudah menjadi indah, atau keriputnya sudah berganti dengan kulit kencang setelah penggunaan produk-produk ajaib itu.

Iklan-iklan semacam itu jelas memberikan vicarious reinforcement, yaknireinforcement yang sebenarnya diterima orang lain (model iklan) tetapi kita sebagai si pengamat ikut merasakannya. Hal ini memacu perempuan untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami sendiri reinforcement yang diterima si model dalam iklan tersebut. Dengan meminjam istilah Albert Bandura dalam teori belajar sosial (social learning theory), perempuan yang menyaksikan iklan itu meniru (modeling) perilaku si model iklan.

Iklan-iklan tersebut juga menampilkan model-model yang tipikal : muda, berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh seksi. Padahal jika kita mengacu pada prinsip distribusi normal dalam statistik, maka jumlah individu yang memiliki nilai rata-rata (dalam berbagai aspek yang diukur) adalah sebesar 68.26%. Individu yang memiliki nilai ekstrim tinggi atau rendah hanya ada sekitar 4.56%. Sisanya adalah mereka yang berada di atas rata-rata namun tidak ekstrim, atau kurang lebih sebesar 27.18%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam realitas, sebesar 68.26% perempuan di dunia adalah perempuan yang tergolong rata-rata kecantikannya. Atau seperti yang dikatakan Rhoda Unger dan Mary Crawford, keduanya psikolog feminis, menampilkan model iklan dengan tipikal seperti di atas sesungguhnya tidak representatif.

Walhasil dengan bentukan-bentukan seperti itu, perempuan selalu berfokus pada tubuhnya. Perempuan sering merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Berbagai kamuflase dilakukan perempuan untuk menutupi bagian tubuhnya. Studi perilaku dengan observasi menunjukkan perempuan sering meletakkan tas di atas paha ketika duduk sehingga perutnya tertutup. Atau perempuan akan membawa buku dengan tangannya yang memegang buku diposisikan di bagian tubuh yang atas, karena mungkin tanpa sadar perempuan berusaha menutupi bagian dadanya.

Simone de Beauvoir, seorang feminis Perancis, sempat dikritik karena memiliki pandangan yang terkesan suram atas tubuh perempuan, dalam bukunya yang terkenal The Second Sex. Namun menurut saya, Beauvoir hanya ingin memaparkan realitas betapa sejak kecil sampai lansia, perempuan senantiasa berurusan dengan tubuhnya.
Simak saja bagaimana setelah melewati masa kanak-kanak yang penuh denganreinforcement-reinforcement untuk kecantikannya, perempuan akan memandang perubahan tubuhnya pada masa pubertas dengan lebih penuh keheranan dibanding laki-laki. Jika penis laki-laki hanya menonjol dalam kondisi tertentu, tidak demikian dengan payudara perempuan. Berbeda dengan mimpi basah yang sehabis bangun tidur pun segera berlalu, menstruasi memakan waktu kurang lebih tujuh hari. Jika cairan yang keluar saat mimpi basah tidak mempengaruhi komposisi substansi tubuhnya, saat menstruasi perempuan akan kehilangan sebagian darahnya yang tentu dapat mempengaruhi kondisi tubuh.

Ketika hamil, kepedulian perempuan pada tubuh akan semakin besar.  Jamu, krim, pil, dan bahkan sekarang muncul dalam bentuk susu yang dipelopori Tropicana Slim dibuat untuk mengembalikan bentuk tubuh perempuan. Menyusui bayi menjadi pilihan yang kadang dilematis pada perempuan-perempuan yang mengkhawatirkan payudaranya tidak lagi indah.

Semakin bertambah usia, ketika kulit berkerut dan perut semakin berlemak, maka semakin banyak pernak-pernik yang akan digunakan perempuan untuk menutupi kekurangan tubuhnya itu. Perempuan berharap aksesoris itu dapat mengalihkan pandangan orang lain dari  wajah dan tubuhnya. Pada saat yang sama, akan semakin tebal kosmetika dibubuhkan di wajahnya. Sampai-sampai kita mengenal stereotipe negatif ,” Ih dandanannya menor/medok (tebal) kayak tante-tante.” Dan ketika usia mulai menua, kata awet muda menjadi begitu indah di telinga perempuan.

Tidak heran jika perempuan menjadi target pasar yang paling berpotensi. Klinik kecantikan dan pelangsingan tubuh didirikan, dengan nama yang khas perempuan : Bella, Susan, dan Marie France Bodyline (bukan Susanto atau Pierre France Bodyline misalnya; Marie adalah nama untuk anak perempuan yang cukup populer di Perancis dan Pierre untuk anak laki-laki, Bella juga berarti cantik diambil dari belle dalam bahasa Perancis).

Berbagai kosmetika diproduksi  dan tidak pernah tidak laku. Target pasarnya dimulai sejak remaja, sebuah tahap perkembangan transisi saat harga diri (self-esteem) cenderung berfluktuatif sehingga mudah dipengaruhi. Bahkan ada pula produk kecantikan yang ditujukan untuk anak-anak, misalnya sebuah perusahaan multilevel yang membuat lipstik khusus anak.  Atau mungkin kita masih ingat dengan sebuah produk yang berbunyi, “Rambut kakak bagus.” Kadang produknya mengandung kontradiksi, misalnya mengklaim produknya terbuat dari bahan-bahan tradisional untuk kecantikan perempuan Indonesia tetapi model iklannya adalah para gadis blasteran. Bahkan perusahaan kosmetika ini mengklaim produknya dengan nama yang cukup aneh di telinga saya : putih langsat. (Mengenai ke-putih-an ini dibahas oleh Aquarini Prabasmoro dalam bukunya Becoming White).

Beauvoir benar bahwa okupasi perempuan pada tubuhnya membuat waktu perempuan semakin terbatas untuk memikirkan hal lain atau melakukan aktivitas lain di luar perihal kebertubuhan. Waktu membaca misalnya, pada perempuan menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan waktu yang diluangkannya untuk mengusapkan lotion pemutih, memoles bedak, mengulas maskara pada matanya, ataupun memilih busana yang hendak dikenakan.  Tidak heran jika jumlah laki-laki yang menjadi ilmuwan lebih banyak dibanding perempuan.

Kebertubuhan perempuan dapat membawa dampak lain yang tidak kalah negatif.Anorexia dan bulimia nervosa, dua jenis gangguan makan yang tercatat dalamDiagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sebuah panduan gangguan psikiatris,  merupakan gangguan yang boleh dikatakan ‘khas’ perempuan. Gangguan makan ini bukan hanya berbahaya secara psikologis, melainkan juga secara fisik dapat mengancam kematian.  Diet ketat, bedah plastik, dan sedot lemak juga dapat mengancam nyawa perempuan. Rasa rendah diri, kecemasan, dan depresi banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Ditemukan pula bahwa ketiga kondisi ini banyak terjadi pada perempuan pasca melahirkan dan menopause.

Lantas salahkah perempuan? Sakitkah perempuan? Mengadopsi pandangan Alfred Adler, bukan perempuan yang salah, melainkan masyarakat. Bukan perempuan yang neurotik, melainkan budaya kita. Budaya kita telah mengkonstruksi perempuan menjadi objek tatapan laki-laki. Perempuan-perempuan ini bersusah payah menjadi ‘cantik’ untuk memuaskan pandangan laki-laki. Perempuan dididik untuk mengikuti keinginan dan harapan laki-laki.

Saya sempat kesal pada perempuan yang menteror saya dan teman saya itu. Sampai kemudian saya menyadari ia sendiri adalah korban dari budaya yang telah mengkonstruksinya menjadi perempuan narsis. Menurut Beauvoir, perempuan narsis menjadi obyek pentingnya sendiri. Ia percaya bahwa dirinya adalah obyek sebagaimana ditegaskan oleh orang di sekitarnya. Ia terpesona dan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri : wajah, tubuh, dan pakaiannya. Dengan demikian, saya pun tidak dapat menyalahkannya. Sikap menyalahkan itu hendak saya alamatkan pada budaya patriarkis yang telah menggiring perempuan menjadi narsis dan neurotik.

Bahkan harus saya akui, terlahir sebagai perempuan dalam budaya yang telah dikonstruksi, hal-hal itupun sempat saya rasakan. Terkadang saya cemas ketika tiba-tiba rasanya sulit mengendalikan nafsu makan saya yang cukup besar, tiba-tiba pakaian mulai kesempitan, atau perut mulai membengkak. Kadang saya kesal dengan diri sendiri yang tidak pandai berdandan meski hanya sekedar mengulas maskara. Sampai akhirnya pada suatu titik saya berhenti dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya mau menjadi korban budaya yang sakit ini?

Namun tentunya kita tidak hanya berhenti pada menyalahkan budaya yang telah menyuburkan reinforcement terhadap kebertubuhan perempuan. Konstruksi budaya semacam ini seharusnya didekonstruksi. Saya melihat sudah mulai ada iklan-iklan produk yang cukup baik dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dovemisalnya yang menampilkan bintang iklan yang adalah perempuan ‘biasa’. Dove juga menampilkan model tidak hanya dengan satu jenis rambut, yaitu rambut panjang nan lurus. Namun dalam iklan Dove ada rambut ikal, berombak, lurus, panjang, dan pendek.

Body Shop juga cukup konsisten dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dalam sebuah produknya, Body Shop menggunakan model iklan berkulit coklat dengan perut yang tidak sedatar perut perempuan dalam iklan-iklan produk lain. Body Shop juga pernah mengeluarkan slogan yang kurang lebih berbunyi,”Tidak harus putih dan langsing untuk menjadi cantik.” Slogan tersebut menyertai gambar perempuan bertubuh gemuk. Semoga saja ada produk-produk lain yang mau mengikuti jejak kedua produk ini sehingga kecantikan perempuan dapat didefinisikan ulang. Bahkan sebaiknya maknanya diperluas hingga melampaui kebertubuhan.

Monday, 21 February 2011

french women don't get fat

Setiap orang punya cara masing-masing untuk menikmati pertambahan usia. Tapi boleh juga kita mengintip rahasia wanita Perancis yang terkenal dengan penampilan mereka yang chic. Sejumlah nama beken, mulai dari Catherine Deneuve, Juliette Binoche, sampai first lady Carla Bruni, selalu tampil cantik dan keren seiring usia mereka. Sepertinya, jika memang ada rahasia untuk `menua` dengan anggun dan stylish, mereka sudah tahu lebih dulu. Boleh jadi, larisnya buku French Women Don`t Get Fat karya Mireille Guilliano adalah karena orang menganggap wanita Perancis lebih tahu urusan penampilan; dari pola makan, gaya hidup, sampai cara mereka merawat diri. Kiat mereka yang terpenting adalah `never neglect yourself, not even in the tinniest details`, seperti yang dikutip Ann M. Morrison di The New York Times, beberapa bulan lalu.

French Women early 20`s
Menurut penulis yang melakukan survei informal di Paris itu, seorang wanita Perancis akan segera berupaya `memindahkan` kembali jarum timbangan ke angka ideal bila beratnya naik 1-2 kilo. Uniknya, wanita Perancis dikenal tidak suka berolahraga – tak seperti wanita Ameriak yang tergila-gila mendatangi gym atau menyewa personal trailer. Satu-satunya olahraga yang mereka lakukan adalah berjalan kaki. Daripada datang ke pusat kebugaran, wanita Perancis memilih merawat diri di Spa.
Usia juga tampaknya bukan penghalang bagi wanita Perancis untuk tetap tampil fashionable. Tubuh ramping dan kulit segar adalah salah satu kunci penampilan menarik mereka. Untuk merawat kecantikan kulit saja, wanita Perancis – khususnya wanita Paris – menghabiskan 2,2 miliar dollar AS setiap tahunnya. Jumlah ini setara dengan yang dibelanjakan wanita Spanyol, Jerman, dan Inggris berbarengan.
Maka, tak heran jika les parisienne ini akrab dengan produk perawatan kulit komplit plus bantuan dokter kecantikan. Rias wajah tipis-tipis adalah `senjata` andalan mereka. Jadi, kalaupun melakukan bedah plastik – teknologi ini kelihatannya tidak pernah kontroversial di sana – mereka lebih suka tidak ada yang tahu bedanya. Pasalnya, bedah plastik bagi mereka ditujukan untuk memperbaiki (menjadi lebih baik), bukan untuk menambah atau mengurangi. Kata kuncinya : tampil senatural mungkin.


Seorang penulis Perancis, Francoise sagan, pernah menulis, "Ada waktunya seorang wanita harus cantik untuk dicintai, dan akan datang pula waktunya ketika dia harus dicintai untuk tampak cantik."


 

Perempuan dalam perspektif laki-laki

bila ditanyakan pada laki-laki yang mereka benar-benar dambakan dari seorang perempuan, kebanyakan menjawab kecantikan lahiriah. Studi di Amerika Serikat menunjukkan selama lebih dari 50 tahun jawaban pria sama saja. Mereka ingin perempuan yang cantik dan menggairahkan. Itu sebabnya, semakin banyak dokter operasi plastik yang semakin kaya. Pada tahun 1996, survei di 13 negara menunjukkan bahwa laki-laki senang dengan perempuan yang mempunyai buah dada montok seimbang dengan bentuk tubuhnya, bibir penuh, mata besar, hidung ramping, dan pinggangnya kira-kira 60 persen lebih kecil dari besar pinggulnya, visualnya seperti gitarlah. Di tambah lagi, perempuan dambaan mereka tidak boleh terlalu gemuk atau terlalu kurus,  kebanyakan laki-laki memilih perempuan yang mempunyai tubuh yang berbentuk, liku-liku yang indah (1). Tentunya ada pengecualian, seperti di suku Azande di bagian timur Sudan, dan di Uganda, yang memilih buah dada yang panjang seperti pendulum, ketimbang buah dada yang montok.

Pertanyaan ini sudah lama menunggu kaum feminis bahwa kecantikan perempuan dibentuk atas dasar tirani. Mengapa perempuan harus mengikuti definisi kecantikan yang dibuat oleh laki-laki? Mengapa ia selalu menyetujui dijadikan obyek seks laki-laki? Kenapa perempuan harus menerima perlakuan ini? bukankah fantasi seksual ini adalah milik laki-laki dan bukan miliknya? Perempuan ketika ditanyakan apa yang mereka inginkan dari laki-laki, akan selalu menjawab dihargai, dicintai, dan disayang. Berbeda sekali dari laki-laki yang dari awal akan menggambarkan gadis pujaannya menjadi simbol seks. Tetapi, tentunya ini sekadar penciptaan fantasinya.  dalam kehidupan sehari-hari laki-laki, yang ia bawa ke pelaminan adalah perempuan baik-baik yang dapat diterima keluarganya. Tetapi, tetap saja laki-laki yang belum menikah atau sudah menikah akan terus-menerus menciptakan fantasinya. Fantasinya kira-kira begini; ia memenangkan sebuah piala dunia, diarak-arak, memiliki mobil mewah yang terbaru, cewek lima orang, bos di perusahaan besar, menjadi jagoan di komunitasnya, menyelamati Angelina Jolie yang dengan pasrah minta pertolongan.(2)

(1) The Times, 8 May 1996, hal.16.
(2) Gadis, Arivia, Feminisme : Sebuah Kata Hati, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 67. 

feminisme dan perkembangannya 2

Istilah feminis pertama kali digunakan di dalam literatur barat baru pada tahun 1880, yang secara tegas menuntut kesetaraan hukum dan politik dengan laki-laki. istilah ini masih terus diperdebatkan, namun secara umum bisa dipakai untuk menggambarkan ketimpangan jender, subordinasi, dan penindasan terhadap perempuan (1).

sejarah pemikiran feminisme mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang konkret serta mempersoalkna perdebatan jender yang menyebabkan ketidakadilan sosial. pemikiran sosiologis, ekonomi dan poltik dapat dilihat secara mengental di dalam teori feminsime liberal, radikal dan marxisme yang mngedepankan argumentasi jender. Teori feminisme tersebut yang digolongkan sebagai teori feminisme gelombang pertama mengajukan pertanyaan bersifat sosiologis serta peranan perempuan di dalamnya telah mempermasalahkan kedudukan dan posisi perempuan di masyarakat, terutama persoalan hak sipilnya. di dalam pengelompokkan gelombang pertama femnisme ini pulalah, ditunjukkan peranan patriarki dalam mengahmabt kemajuan perempuan.

pada dasarnya, teori feminisme telah menyumbangkan pemikiran yang luar biasa tentang persoalan ketidakadilan sosial. pada gelombang kedua,  pemikiran feminisme buka lagi memfokuskan diri pada pertanyaan melakukan pergerakan politis seperti pada teori feminisme gelombang pertama. akan tetapi, lebih pda mempertanyakan peranan jender. gelombang kedua teori feminisme memberikan penjelasan umum tentang konsep fundamental penindasan terhadap perempuan dan rspons terhadap kritik Marxisme. pada tahap teori ini, pembahasan difokuskan pada perbedaan yang diciptakan antara perempuan dan laki-laki yang terjadi secara mengakar dengan dibahasakan kodratiah. perspektif pada gelombang ini kemudian melahirkan perempuan dan laki-laki sama atau setara. perspektif ini ingin mendorong masyarkat untuk menerima perempuan dalam posisi yang sama dengan laki-laki. namun, di dalam pembahasan gelombang teori ini pula, lahir konsep perbedaan yang mengakui cir-ciri khusus perempuan (karakterisrik perempuan) yang bukan berarti inferior terhadap perempuan (gynocentrisme). bahkan beberapa karakteristik tersebut dapat dianggap mempunyai nilai tambah daripada karakteristik laki-laki. teori feminisme gelombang kedua merupkan teori yang semakin bergelut dengan wacana-wacna, yang dimulai dengan pemeriksaan terhdap psyché perempuan untuk mencari penyebab penindasan terhadap perempuan.

dari sekian banyak teori yang dibahas di dalam tulisan ini, feminisme harus diakui memiliki pemikiran progresif yang mampu mengadkan perubahan sosial maupun perubahan intelektual selama era modernisme dan ikut memberikan masukan berarti dalam munculnya teori postmodenisme. era postmodernisme diperkenalkan leat seni postmo yang mengkritik dikotomi highart dan low art. dalam arsitektur, perdebatan postmodern ditandai oleh dikotomi modern dan tradisional yang mengabur. tataran epistemologis postmodern memberikan kegairahan ilmiah baru yang mulai lelah dengan pengagungan empirisme, rasionalisme, dan seluruh teori besar yang dimulai sejak abad pencerahan.

bila di dalam pemikiran pemikiran modern terdapat oposisi biner yang tajam, maka di dalam pemikiran postmodern oposisi tersebut dihilangkan. Maka, dalam feminisme postmodern, dikotomi identitas laki-laki dan perempuan juga tidak menjadi relevan. postmdernisme mengatakan bahwa seluruh realitas terdiri dari teks, oleh sebab itu, pengetahuan tentang perempuan maupun laki-laki adalah tekstual. Dengan demikian, kontribusi terbesar pemikiran feminisme postmodernisme adalah dekontruksi teks yang bias jender.

kritik postmodernisme mempunyai kesamaan dengan postfeminisme tentang dominasi wacana sentral, metanarasi laki-laki yang menghasilkan perdebatan posisi epistemologis baru. Namun, ada sikap ambivalensi kelompok feminisme terhadap postmodernisme. di satu pihak, feminisme mempunyai alat baru dalam menafsirkan teks perempuan, tetapi di lain pihak ada ketidakpuasan feminisme terhadap postmodernisme, yakni kecenderungannya meminggirkan analisis jender. kaum feminis khawatir dengan pernyataan feminis postmodernisme atau post feminis, seperti Linda Nicholson. persoalan tokoh feminis postmo ini adalah tidak mau terang-terangan memihak feminis, tetapi lebih nyaman mengutak-atik argumentasi wacan, identitas, nasionalitas, dan perbedaan. namun, bagaimnapun juga perdebatan wacana feminisme postmodern telah berhasil mendekontruksi wacana sentralistik dan narasi filsaft barat yang mendominasi. Lewat alat baru ini, postkolonialisme dapat pula mendongkrak wacana imperialisme. postmodernisme, postkolonialisme, dan postfeminisme sepintas terlihat bergandengan tangan dalam teori, dan bagi feminis kontemporer, manfaat yang dapat dipetik adalah alat ketiga, post ini dapat membongkar wacana besar patriarkal dan menumbuhkan wacana marjinal seperti perempuan. di sinilah Nicho;som berkutat dan menyatakan bahwa pada akhirnya mengkaji wacana-wacana ini menjadi jauh lebih penting, tidak lagi hanya pergerakan politik feminisme saja. sebagai akibatnya, feminisme postmodernisme dan postfeminisme dianggap kurang mempunyai kekuatan politis.

hal lain yang membuat paradigma feminisme berubah adalah adanya kegerahan pada pemaksaan representasi perempuan di dalam semua aspek kehidupan manusia yang digembar-gemborkan sejak gerakan feminisme di awal tahun 1970-an. misalnya saja pendapat Catherine Mac Kinnon yang menyatakan bahwa lewat proses sosialisasi relasi jender inilah perempuan mengerti kedudukannya sebagai makhluk seksual yang hanya bisa eksis karena laki-laki. oleh sebab itu, pembahasan seksualitas perempuan menjadi penting. pemahaman kekuasaan seksualitas memberikan gambaran yang terang tentang ketertindasan perempuan baik di lingkup domestik dan publik. isu kesetaraan menjadi penting di hampir segala sektor dan perempuan menuntut haknya. dengan demikian, representasi perempuan menjadi keharusan dan kadangkala menjadi pemaksaan dalam semua aspek kehidupan.

apapun polemiknya, harus diakui bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh para feminis di Barat merupakan kerja keas lebih dari 20 tahun yang menggembirakan untuk sebagian besar perempuan yang kini telah merasakan manfaatnya. akan tetapi, satu hal yg perlu diperhatikan adalah bahwa representasi perempuan ini dapat menjadi wacana yang mendominasi dan pada akhirnya membentuk gaya otoriter yang baru. tentunya hal ini menumbuhkan kejenuhan pada generasi muda perempuan, generasi x, yang tidak lagi memandang perlu untuk ikut-ikutan seperti ibu bahkan nenek mereka bergerombol menjadi feminis dan teriak-teriak di jalan. masa-masa itu bagi mereka sudah usang. Ada era baru, kegairahan baru, cara pandang, dan epistemologi baru yang ditawarkan di era komputerisasi atau postmodern ini dan kelihatannya bagi perempuan muda generasi tahun 2000-an sekarang ini, formulasi tentang identitas seksual mereka, dirumuskan berbeda (2).


(1) Bryson, Valerie, Feminist Political theory, macMillan, 1992, hal 1
(2)Arivia, Gadis. Feminisme : Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 18-22

perkembangan feminisme di Prancis

feminisme adalah sebuah kata yangs sebenarnya tidak mempunyai arti pasti yang dapat diformulasikan sebagai definisi karena setiap gerakan feminisme memiliki kepentingan masing-masing yang ingin diperjuangkan. namun, jika dilihat secara umum, feminisme menurut KBBI adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria.

gerakan ini terus berkembang di Prancis dari waktu ke waktu. feminisme sendiri secara global terbagi atas tiga tahap, yaitu feminisme gelombang pertama, feminisme gelombang kedua, dan feminisme gelombang ketiga. feminisme awal yang dimulai sejak tahun 1800-an, khususnya setelah terjadi revolusi prancis pada tahun 1789, merupakan gambaran feminisme gelombang pertama yang menitikberatkan perjuangan kaum feminis untuk mencapai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki yang mencakup bidang sosial, ekonomi dan politik. di bidang sosial,, kaum feminis menandai bahwa hak-hak perempuan sangat terbatas. tradisi menghendaki perempuan menjadi pengurus rumah tangga dan keluarga, sehingga sebagian besar masa hidupnya hanya dihabiskan dalam lingkungan rumah. Di samping itu, perempuan juga tidak diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi, memangku jabatan-jabatan tertentu, atau menekuni profesi-profesi tertentu. keterbatasan perempuan dalam bidang sosial juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi mereka. sebagian besar lapangan kerja tertutup bagi perempuan dan kalaupun mereka diberi kesempatan untuk mencari nafkah, upah yang diterima mereka akan jauh lebih rendah daripada upah yang diterima laki-laki.

sementara, bidang politik dipilih kaum feminis sebagai jalan keluar untuk segala tuntutan mereka yang tidak juga  dipenuhi oleh pemerintah. mereka juga beranggapan bahwa keadaan perempuan tidak akan mengalami kemajuan jika pemerintahan tetap dikuasai dan didominasi oleh laki-laki (Soenarjati Djajanegara 2000: 6-7). setelah mendapatkan hak dipilih dan memilih (suffrage) dalam bidang politik yang telah lama diperjuangkan oleh kaum feminis, gerakan feminisme mulai mengendur dan baru muncul kembali pada tahun 1960-an.

pada feminisme gelombang kedua, banyak tokoh-tokoh feminis yang kembali bermunculan dan menyampaikan pendapatnya melalui berbagai media, salah satunya melalui media tulisan. mereka menulis roman sebagai bentuk ekspresi mereka dalam menyoroti kedudukan perempuan di dalam masyarakat yang cenderung masih dianggap lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki. dengan semakin majunya dunia tulis-menulis kaum feminis, pada abad ke-20 muncul istilah l'ecriture feminine, di Prancis adalah Simone de Beauvoir, dengan karyanya yang berjudul Le deuxieme Sexe (1949). Karya ini menandai pembaharuan dalam perkembangan feminisme di Prancis pada pertengahan abad ke-20, yang didukung juga oleh munculnya gerakan feminisme di berbagai belahan eropa, termasuk Prancis pada tahun 1960-an dan revolusi seksual yang terjadi di negara-negara Barat. gerakan feminisme gelombang kedua ini banyak membahas mengenai persoalan perempuan seperti kondisi inferioritas dan ketertindasan perempuan di tengah masyarakat. hal mengenai seksualitas dan kebebasan perempuan atas tubuhnya juga banyak dibahas pada gelombang ini karena berkaitan dengan dominasi laki-laki atas perempuan.

sementara itu, pada feminisme gelombang ketiga, kaum feminis menggali persoalan mengenai inferioritas perempuan yang bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem. tokoh feminisme postmodernisme antara lain, Helene Cixous, Luce Irigaray, Julia Kristeva, francoise sagan, dsb. selain itu, feminisme gelombang ini juga melihat penindasan perempuan yang berkaitan dengan masalah ras, etnis, dsb.

Sunday, 20 February 2011

kenapa harus menjadi feminis?

bayangkan dunia tanpa feminisme apa jadinya? dunia yang tidak memperbolehkan perempuan mengenyam pendidikan tinggi, tidak memperbolehkan perempuan memegang jabatan politik atau berkarier bahkan memilih sikap hidup untuk menikah atau tidak menikah, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak, dst.

Walaupun hasil kerja para feminis telah banyak memajukan kehidupan perempuan, keberadaan para feminis tidak selalu disambut dengan tangan terbuka. feminisme seringkali digambarkan secara buruk oleh berbagai macam kelompok. di tingkat politik, feminisme dianggap mengambil porsi kekuasaan laki-laki. argumentasi kuota 30 persen bagi perempuan di politik tidak dilihat sebagai suatu tindakan affirmative action yang berguna bagi kelompok minoritas (tidak berdaya) manapun.

Di tingkat budaya, segala efek negatif kemajuan budaya kontemporer dianggap bersumber pada feminisme. Misalnya, adanya kebebasan berhubungan seksual, perceraian, peningkatan jumlah anak yang narkoba, pakaian yang minim/seksi, dll. Bahkan, para feminis cenderung dianggap kelompok pemarah yang mempertanyakan dan menggugat segala hal. Namun, tidak ada yang pernah bertanya mengapa para feminis begitu marah degan keadaan yang tidak adil? tidakkah wajar bila seseorang merasa marah bila diperlakukan tidak adil?(1)

Alison Jagger, seorang feminis, memberi penjelasan ketertindasan perempuan sebagai berikut(2) :

1. bahwa perempuan secara historis merupakan kelompok yang tertindas.
2. bahwa ketertindasan perempuan sangat meluas di hampir seluruh masyarakat mana pun.
3. bahwa ketertindasan perempuan merupakan bentuk yang paling dalam dan ketertindasan yang paling sulit untuk dihapus dan tidak dpat dihilangkan dengan perubahan-perubahan sosial seperti penghapusan kelas masyarakat tertentu.
4. bahwa penindasan terhadap perempuan menyebabkan kesengsaraan yang amat sangat terhadap korbannya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, walaupun kesengsaraan tersebut tidak tampak karena adanya ketertutupan, baik yang dilakukan oleh pihak penindas maupun tertindas.
5. bahwa pemahaman penindasan terhadap perempuan pada dasarnya memberikan model konseptual untuk mengerti bentuk-bentuk lain penindasan.


(1)Arivia, Gadis. Feminisme : Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 2-4
(2)Arivia, Gadis. Filsafat Berperspektif Feminsime. Yayasan Jurnal Perempuan, 2003, hal.100-103

apakah itu feminisme?

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yg menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dgn pria.
Tokohnya disebut Feminis.
Feminisme sbg filsafat dan gerakan berkaitan dgn Era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.


Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dlm realitas sosialnya.
Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tdk memiliki hak-hak seperti hak utk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan.
Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tdklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum.
Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah utk perempuan pertamaX didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.

Kata feminisme dicetuskan pertamaX olh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837.
Pergerakan yg berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, "Perempuan sebagai Subyek" pd tahun 1869.

Secara umum kaum perempuan merasa dirugikan dlm semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki dlm bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya - terutama dlm masyarakat yg bersifat patriarki.
Dalam masyarakat tradisional yg berorientasi Agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di dpn, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dlm rumah.
Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika dtgnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-18 yg merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
Adanya fundamentalisme agama yg melakukan opresi thdp kaum perempuan memperburuk situasi.
Di lingkungan agama Kristen trjd praktek-praktek dan kotbah-kotbah yg menunjang hal ini ditilik dari byknya gereja menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan "tua" hanya dapat dijabat oleh pria.
Pergerakan di Eropa untuk "menaikkan derajat kaum perempuan" disusul olh Amerika Serikat saat trjd revolusi sosial dan politik.
Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul "Mempertahankan Hak-hak Wanita" (Vindication of the Right of Woman) yg berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yg digunakan dikemudian hari.
Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yg cukup mendapatkan perhatian dr para perempuan kulit putih di Eropa.
Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yg mereka sebut sbg keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood).
Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, mjd awal bagi perempuan mendptkn hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dgn diikutsertakannya perempuan dlm hak suara parlemen.
Gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dgn kelahiran dekonstruksionis, Derrida.
Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yg byk didominasi oleh nilai-nilai maskulin.

Beberapa Aliran Feminisme

Feminisme Liberal
pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual.
Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik.
Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan.
Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri.
Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Feminisme Radikal
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan".
Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi.
Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada.
Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang "radikal".
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki.
Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki.
Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik.
Feminisme Post Modern
Feminisme Modern ide Posmo (aliran pemikiran yang sekaligus menjadi gerakan yang bereaksi
terhadap kegagalan manusia menciptakan dunia yang lebih baik) ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah.
Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
Feminisme Anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme.
Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi.
Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property).
Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange).
Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial.
Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property.
Kaum Feminis Marxis, menganggap bahwa negara bersifat kapitalis yakni menganggap bahwa negara bukan hanya sekadar institusi tetapi juga perwujudan dari interaksi atau hubungan sosial.
Feminisme Sosialis
Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan.
Lembaga perkimpoian yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis.
Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh.
Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan.
Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan.
Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu.
Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung.
Feminisme Postkolonial
Feminisme Postkolonial pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat.
Feminisme Nordic
Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.
Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktek-praktek yeng bersifat mikro.
Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.

Di sendiri, di akhir abad ke-19 perempuan-perempuan muda terlibat dlm perjuangan bersenjata melawan penjajah.
Sebatas membantu suami pd awalnya, tetapi kemudian sungguh-sungguh menjd pemimpin pasukannya. Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu bersama Kapitan Pattimura, Emmy Saelan mendampingi Monginsidi, serta Roro Gusik bersama Surapati.
Lalu ada Wolanda Maramis dan Nyi Ageng Serang.
Tak perlu msk sekolah Belanda utk membangun gerakan nasional, para perempuan ini angkat senjata dgn gigih, dan membyr nyawanya di tiang gantungan sprti Tiahahu.
Alangkah bsrnya sumbangan yg diberikan oleh Gerakan Pembebasan Nasional kpd perkembangan gerakan perempuan.
Di satu sisi, berbagai oganisasi nasional ataupun partai politik saat itu berupaya membgn sayap perempuannya sendiri, ataupun mendukung dan didukung oleh perjuangan perempuan di satu sektor atau kls tertentu.
Di sisi lain, perkembangan gerakan berbasiskan agm seperti Muhammadiyah, trt pula membntk polarisasi dlm gerakan perempuan.