Sunday, 20 February 2011

kenapa harus menjadi feminis?

bayangkan dunia tanpa feminisme apa jadinya? dunia yang tidak memperbolehkan perempuan mengenyam pendidikan tinggi, tidak memperbolehkan perempuan memegang jabatan politik atau berkarier bahkan memilih sikap hidup untuk menikah atau tidak menikah, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak, dst.

Walaupun hasil kerja para feminis telah banyak memajukan kehidupan perempuan, keberadaan para feminis tidak selalu disambut dengan tangan terbuka. feminisme seringkali digambarkan secara buruk oleh berbagai macam kelompok. di tingkat politik, feminisme dianggap mengambil porsi kekuasaan laki-laki. argumentasi kuota 30 persen bagi perempuan di politik tidak dilihat sebagai suatu tindakan affirmative action yang berguna bagi kelompok minoritas (tidak berdaya) manapun.

Di tingkat budaya, segala efek negatif kemajuan budaya kontemporer dianggap bersumber pada feminisme. Misalnya, adanya kebebasan berhubungan seksual, perceraian, peningkatan jumlah anak yang narkoba, pakaian yang minim/seksi, dll. Bahkan, para feminis cenderung dianggap kelompok pemarah yang mempertanyakan dan menggugat segala hal. Namun, tidak ada yang pernah bertanya mengapa para feminis begitu marah degan keadaan yang tidak adil? tidakkah wajar bila seseorang merasa marah bila diperlakukan tidak adil?(1)

Alison Jagger, seorang feminis, memberi penjelasan ketertindasan perempuan sebagai berikut(2) :

1. bahwa perempuan secara historis merupakan kelompok yang tertindas.
2. bahwa ketertindasan perempuan sangat meluas di hampir seluruh masyarakat mana pun.
3. bahwa ketertindasan perempuan merupakan bentuk yang paling dalam dan ketertindasan yang paling sulit untuk dihapus dan tidak dpat dihilangkan dengan perubahan-perubahan sosial seperti penghapusan kelas masyarakat tertentu.
4. bahwa penindasan terhadap perempuan menyebabkan kesengsaraan yang amat sangat terhadap korbannya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, walaupun kesengsaraan tersebut tidak tampak karena adanya ketertutupan, baik yang dilakukan oleh pihak penindas maupun tertindas.
5. bahwa pemahaman penindasan terhadap perempuan pada dasarnya memberikan model konseptual untuk mengerti bentuk-bentuk lain penindasan.


(1)Arivia, Gadis. Feminisme : Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 2-4
(2)Arivia, Gadis. Filsafat Berperspektif Feminsime. Yayasan Jurnal Perempuan, 2003, hal.100-103

No comments:

Post a Comment