Monday, 21 February 2011

feminisme dan perkembangannya 2

Istilah feminis pertama kali digunakan di dalam literatur barat baru pada tahun 1880, yang secara tegas menuntut kesetaraan hukum dan politik dengan laki-laki. istilah ini masih terus diperdebatkan, namun secara umum bisa dipakai untuk menggambarkan ketimpangan jender, subordinasi, dan penindasan terhadap perempuan (1).

sejarah pemikiran feminisme mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang konkret serta mempersoalkna perdebatan jender yang menyebabkan ketidakadilan sosial. pemikiran sosiologis, ekonomi dan poltik dapat dilihat secara mengental di dalam teori feminsime liberal, radikal dan marxisme yang mngedepankan argumentasi jender. Teori feminisme tersebut yang digolongkan sebagai teori feminisme gelombang pertama mengajukan pertanyaan bersifat sosiologis serta peranan perempuan di dalamnya telah mempermasalahkan kedudukan dan posisi perempuan di masyarakat, terutama persoalan hak sipilnya. di dalam pengelompokkan gelombang pertama femnisme ini pulalah, ditunjukkan peranan patriarki dalam mengahmabt kemajuan perempuan.

pada dasarnya, teori feminisme telah menyumbangkan pemikiran yang luar biasa tentang persoalan ketidakadilan sosial. pada gelombang kedua,  pemikiran feminisme buka lagi memfokuskan diri pada pertanyaan melakukan pergerakan politis seperti pada teori feminisme gelombang pertama. akan tetapi, lebih pda mempertanyakan peranan jender. gelombang kedua teori feminisme memberikan penjelasan umum tentang konsep fundamental penindasan terhadap perempuan dan rspons terhadap kritik Marxisme. pada tahap teori ini, pembahasan difokuskan pada perbedaan yang diciptakan antara perempuan dan laki-laki yang terjadi secara mengakar dengan dibahasakan kodratiah. perspektif pada gelombang ini kemudian melahirkan perempuan dan laki-laki sama atau setara. perspektif ini ingin mendorong masyarkat untuk menerima perempuan dalam posisi yang sama dengan laki-laki. namun, di dalam pembahasan gelombang teori ini pula, lahir konsep perbedaan yang mengakui cir-ciri khusus perempuan (karakterisrik perempuan) yang bukan berarti inferior terhadap perempuan (gynocentrisme). bahkan beberapa karakteristik tersebut dapat dianggap mempunyai nilai tambah daripada karakteristik laki-laki. teori feminisme gelombang kedua merupkan teori yang semakin bergelut dengan wacana-wacna, yang dimulai dengan pemeriksaan terhdap psyché perempuan untuk mencari penyebab penindasan terhadap perempuan.

dari sekian banyak teori yang dibahas di dalam tulisan ini, feminisme harus diakui memiliki pemikiran progresif yang mampu mengadkan perubahan sosial maupun perubahan intelektual selama era modernisme dan ikut memberikan masukan berarti dalam munculnya teori postmodenisme. era postmodernisme diperkenalkan leat seni postmo yang mengkritik dikotomi highart dan low art. dalam arsitektur, perdebatan postmodern ditandai oleh dikotomi modern dan tradisional yang mengabur. tataran epistemologis postmodern memberikan kegairahan ilmiah baru yang mulai lelah dengan pengagungan empirisme, rasionalisme, dan seluruh teori besar yang dimulai sejak abad pencerahan.

bila di dalam pemikiran pemikiran modern terdapat oposisi biner yang tajam, maka di dalam pemikiran postmodern oposisi tersebut dihilangkan. Maka, dalam feminisme postmodern, dikotomi identitas laki-laki dan perempuan juga tidak menjadi relevan. postmdernisme mengatakan bahwa seluruh realitas terdiri dari teks, oleh sebab itu, pengetahuan tentang perempuan maupun laki-laki adalah tekstual. Dengan demikian, kontribusi terbesar pemikiran feminisme postmodernisme adalah dekontruksi teks yang bias jender.

kritik postmodernisme mempunyai kesamaan dengan postfeminisme tentang dominasi wacana sentral, metanarasi laki-laki yang menghasilkan perdebatan posisi epistemologis baru. Namun, ada sikap ambivalensi kelompok feminisme terhadap postmodernisme. di satu pihak, feminisme mempunyai alat baru dalam menafsirkan teks perempuan, tetapi di lain pihak ada ketidakpuasan feminisme terhadap postmodernisme, yakni kecenderungannya meminggirkan analisis jender. kaum feminis khawatir dengan pernyataan feminis postmodernisme atau post feminis, seperti Linda Nicholson. persoalan tokoh feminis postmo ini adalah tidak mau terang-terangan memihak feminis, tetapi lebih nyaman mengutak-atik argumentasi wacan, identitas, nasionalitas, dan perbedaan. namun, bagaimnapun juga perdebatan wacana feminisme postmodern telah berhasil mendekontruksi wacana sentralistik dan narasi filsaft barat yang mendominasi. Lewat alat baru ini, postkolonialisme dapat pula mendongkrak wacana imperialisme. postmodernisme, postkolonialisme, dan postfeminisme sepintas terlihat bergandengan tangan dalam teori, dan bagi feminis kontemporer, manfaat yang dapat dipetik adalah alat ketiga, post ini dapat membongkar wacana besar patriarkal dan menumbuhkan wacana marjinal seperti perempuan. di sinilah Nicho;som berkutat dan menyatakan bahwa pada akhirnya mengkaji wacana-wacana ini menjadi jauh lebih penting, tidak lagi hanya pergerakan politik feminisme saja. sebagai akibatnya, feminisme postmodernisme dan postfeminisme dianggap kurang mempunyai kekuatan politis.

hal lain yang membuat paradigma feminisme berubah adalah adanya kegerahan pada pemaksaan representasi perempuan di dalam semua aspek kehidupan manusia yang digembar-gemborkan sejak gerakan feminisme di awal tahun 1970-an. misalnya saja pendapat Catherine Mac Kinnon yang menyatakan bahwa lewat proses sosialisasi relasi jender inilah perempuan mengerti kedudukannya sebagai makhluk seksual yang hanya bisa eksis karena laki-laki. oleh sebab itu, pembahasan seksualitas perempuan menjadi penting. pemahaman kekuasaan seksualitas memberikan gambaran yang terang tentang ketertindasan perempuan baik di lingkup domestik dan publik. isu kesetaraan menjadi penting di hampir segala sektor dan perempuan menuntut haknya. dengan demikian, representasi perempuan menjadi keharusan dan kadangkala menjadi pemaksaan dalam semua aspek kehidupan.

apapun polemiknya, harus diakui bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh para feminis di Barat merupakan kerja keas lebih dari 20 tahun yang menggembirakan untuk sebagian besar perempuan yang kini telah merasakan manfaatnya. akan tetapi, satu hal yg perlu diperhatikan adalah bahwa representasi perempuan ini dapat menjadi wacana yang mendominasi dan pada akhirnya membentuk gaya otoriter yang baru. tentunya hal ini menumbuhkan kejenuhan pada generasi muda perempuan, generasi x, yang tidak lagi memandang perlu untuk ikut-ikutan seperti ibu bahkan nenek mereka bergerombol menjadi feminis dan teriak-teriak di jalan. masa-masa itu bagi mereka sudah usang. Ada era baru, kegairahan baru, cara pandang, dan epistemologi baru yang ditawarkan di era komputerisasi atau postmodern ini dan kelihatannya bagi perempuan muda generasi tahun 2000-an sekarang ini, formulasi tentang identitas seksual mereka, dirumuskan berbeda (2).


(1) Bryson, Valerie, Feminist Political theory, macMillan, 1992, hal 1
(2)Arivia, Gadis. Feminisme : Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 18-22

No comments:

Post a Comment