Monday, 21 February 2011

Perempuan dalam perspektif laki-laki

bila ditanyakan pada laki-laki yang mereka benar-benar dambakan dari seorang perempuan, kebanyakan menjawab kecantikan lahiriah. Studi di Amerika Serikat menunjukkan selama lebih dari 50 tahun jawaban pria sama saja. Mereka ingin perempuan yang cantik dan menggairahkan. Itu sebabnya, semakin banyak dokter operasi plastik yang semakin kaya. Pada tahun 1996, survei di 13 negara menunjukkan bahwa laki-laki senang dengan perempuan yang mempunyai buah dada montok seimbang dengan bentuk tubuhnya, bibir penuh, mata besar, hidung ramping, dan pinggangnya kira-kira 60 persen lebih kecil dari besar pinggulnya, visualnya seperti gitarlah. Di tambah lagi, perempuan dambaan mereka tidak boleh terlalu gemuk atau terlalu kurus,  kebanyakan laki-laki memilih perempuan yang mempunyai tubuh yang berbentuk, liku-liku yang indah (1). Tentunya ada pengecualian, seperti di suku Azande di bagian timur Sudan, dan di Uganda, yang memilih buah dada yang panjang seperti pendulum, ketimbang buah dada yang montok.

Pertanyaan ini sudah lama menunggu kaum feminis bahwa kecantikan perempuan dibentuk atas dasar tirani. Mengapa perempuan harus mengikuti definisi kecantikan yang dibuat oleh laki-laki? Mengapa ia selalu menyetujui dijadikan obyek seks laki-laki? Kenapa perempuan harus menerima perlakuan ini? bukankah fantasi seksual ini adalah milik laki-laki dan bukan miliknya? Perempuan ketika ditanyakan apa yang mereka inginkan dari laki-laki, akan selalu menjawab dihargai, dicintai, dan disayang. Berbeda sekali dari laki-laki yang dari awal akan menggambarkan gadis pujaannya menjadi simbol seks. Tetapi, tentunya ini sekadar penciptaan fantasinya.  dalam kehidupan sehari-hari laki-laki, yang ia bawa ke pelaminan adalah perempuan baik-baik yang dapat diterima keluarganya. Tetapi, tetap saja laki-laki yang belum menikah atau sudah menikah akan terus-menerus menciptakan fantasinya. Fantasinya kira-kira begini; ia memenangkan sebuah piala dunia, diarak-arak, memiliki mobil mewah yang terbaru, cewek lima orang, bos di perusahaan besar, menjadi jagoan di komunitasnya, menyelamati Angelina Jolie yang dengan pasrah minta pertolongan.(2)

(1) The Times, 8 May 1996, hal.16.
(2) Gadis, Arivia, Feminisme : Sebuah Kata Hati, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2006, hal 67. 

No comments:

Post a Comment